Rabu, 05 Juni 2013

PERJALANAN JIWA


G
airah islam yang pada awalnya menumbuhkan rasa fanatisme agama yang sempit, pada akhirnya kemudian meluas yang justru membuka dada pada kesadaran wawasan akan keaneka ragaman ciptaan Tuhan, yang jangankan dapat kita pahami hakekatnya satu per satu, menghitung jumlahnya sajapun takkan pernah ada yang sanggup. Jadi mengapa mempermasalahkan perbedaan, bila Tuhan saja menciptakan anjing dan babi sebagai hewan yang justru untuk diharamkan bagi sebagian kita dengan sebagian yang lain??
Jika dahulu, sejak masa kecilku, aku begitu terobsesi untuk mengetahui segala hal, maka sekarang, pada masa-masa ini, yaitu masa-masa transformasi kejiwaanku ini, aku begitu ingin mengetahui  apa yang dikehendaki serta maksud tujuan Tuhanku maka aku terlahir dan menjadi ada di alam ini? Jika sama dengan yang lainnya, mengapa harus aku? Tentu tidak hanya sekedar terlahir, hidup, dan kemudian mati. Pasti ada yang tak kuketahui dari apa yang Dia inginkan agar aku berbuat dalam hidup.
Mengetahui atau menyadari diri ini adalah bagian kecil, yang mungkin setitiknya pun tidak, dari sistem agung semesta alam raya yang tak terkira luasnya ini, tak juga membawaku kepada memahami kehendak serta maksud dan tujuan Tuhan terhadapku. Seandainya dapat kuketahui melalui pengamatan terhadap apa-apa yang tersebar di alam, apakah mungkin dapat mendekati pemahaman tersebut? Sedangkan setiap sesuatu diciptakan berbeda, dan saling memiliki karakteristik yang berbeda, maka tentu memiliki tujuan-tujuan yang berbeda terhadap satu sama lainnya. Sekalipun dalam satu konsep kehidupan makro dalam sistem semesta alam raya. Dan sekali lagi, belum dapat menjawab pertanyaan jiwa bathinku.
Begitu banyaknya, yang kelihatan, makhluk-makhluk, yaitu diri-diri kemanusiaan, yang bertebaran dan menapaki hidup kehidupan nyata di alam nyata. Sementara aku, dengan wujud nyataku, bergentayangan di alam nyata, tetapi hidup dan mengalami kehidupan seperti di dalam bathin, tidak nyata. Apa yang mereka rasakan tentangku, tidak sama persis seperti yang kurasakan. Terkadang aku merasakan yang lain dan berbeda, bahkan sudut pandangku pun tidak seperti umumnya kebanyakan orang. Sehingga aku merasakan keterasingan jiwaku di dalam keramaian dan hiruk pikuknya dunia. Akan tetapi hal ini tak pernah kuungkapkan, agar mereka tak menganggapku gila. Dalam kenyataan aku beradaptasi, tetapi di dalam bathin kumiliki opiniku sendiri.
Ketertarikanku kepada alam turut mewarnai dan membentuk khasanah pola pikir terhadap adanya saling keterkaitan satu sama lain diantara segala sesuatunya, sehingga mengarahkan segala pemikiran kepada suatu satu wujud tunggal, yaitu yang tak lain dan tak bukan adalah Dialah Allah Yang Maha Tunggal. Ar Raahman, Yang Maha Pemurah.
Alam banyak memberiku pemahaman tentang keberadaan dan kekuasaan-Nya. Kadangkala alam menjadi cermin yang membuatku malu karena menjadi jelas dan nyata terlihat begitu banyaknya kesalahanku di masa yang lampau. Alam pula yang menyuruh-ku untuk mencari Wujud Tunggal sumber dari segala sesuatu baik yang kuketahui, yang belum kuketahui, dan yang sama sekali tak kuketahui atau tak terpikirkan.
Pernah disadarkannya pemahamanku oleh beberapa ekor bebek yang sedang riang, sambil berenang dan kadang menyelam di empang tuan pemiliknya. Riuh rendah suaranya mengusik perhatianku yang saat itu sedang merenung di siang hari yang panas dan terik. Hal tersebut membawa kepada pertanyaan, telah cukupkah nikmat yang mereka terima dalam hidup ini dengan riang gembira dan makanan yang selalu ada, tempat bermain yang menyenangkan, dan terkadang sesekali, berombongan mereka diajak berkeliling kampung oleh pemiliknya?
Memang secara lahiriah itu adalah hal yang biasa, tapi setelah timbul perenungan kembali ketika disuguhkan telur bebek sebagai pelengkap sajian. Mereka telah menerima nikmat rizki dari pemiliknya seperti yang dipaparkan di atas, kini telurnya, cikal bakal keturunannya diambil oleh pemilik dirinya tanpa merasa sedih dan kehilangan atau bahkan timbul kegaduhan karena rasa tidak senang. Mereka menjalaninya dengan pasrah, atau mungkin lebih tepatnya adalah berserah diri kepada pemilik dan pemeliharanya.
Perenungan itu mengingatkan kembali akan kisah Nabi Ibrahim As ketika mendapatkan perintah memberikan anaknya sebagai kurban kepada Allah dengan jalan penyembelihan. Renungkanlah kisahnya, seorang yang telah memasuki masa tuanya dan belum dikaruniakan keturunan, kemudian setelah harapannya dikabulkan oleh “pemilik”-nya, dan di saat-saat hatinya sedang berbahagia dengan kehadiran seorang anak, tiba-tiba datang perintah agar memberikan “pengorbanan” berupa anak satu-satunya yang baru saja dimilikinya itu. Keyakinan seperti apakah itu? Setinggi apakah rasa keberserah diriannya terhadap yang sejatinya memiliki, menguasai, serta memelihara-nya?
Ternyata, sungguh sudah pasti Allah mengganti atau membalas pengorbanannya tersebut sebesar maupun sekecil apapun itu. Itulah sejatinya ber-qurban. Sungguh ini merupakan pelajaran berharga bagi siapapun yang hendak sejatinya berqurban.
Tentu tidaklah mungkin kita akan mengalami hal seperti kisah tersebut, akan tetapi sungguh banyak dan sering kita temui di sekitar kita, yaitu mereka yang membutuhkan bantuan, sedangkan kita pun merasa pas-pasan, pas hanya tinggal untuk kita sendiri. Tinggal satu-satunya, lantas bagaimana untuk kita nantinya?
Justru yang tinggal satu-satunya yang kita miliki itulah yang membuatnya menjadi bernilai tinggi lagi mulia, kemudian ikhlaskanlah perbuatan itu hanya karena dan untuk Allah semata. Seperti kisah Ibrahim diatas yang difirmankan Allah sebagai pelajaran bagi orang-orang sesudahnya. Itulah sejatinya ber-qurban. Kapan lagi kita dapat berqurban yang sebenar-benarnya berqurban? Kuingat, inti dari ibadah Haji adalah (dan) ditutup dengan ber-qurban. Sedangkan Rukun Islam (berserah diri) pun ditutup dengan ibadah Haji. Maka syarat sah-nya muslim (orang-orang yang telah berserah diri) adalah ikhlas, yaitu amal perbuatan yang murni hanya karena dan untuk Allah semata.
Sering pula kulihat dan kualami pada masa-masa sekolah dulu, saat di bus kota yang berdesakan oleh penumpang, dan ada yang mengalah memberikan tempat duduknya kepada orang tua atau ibu hamil sebagai bentuk kepedulian bagi yang lemah. Dan menurutku, itupun sebagai salah satu bentuk pengorbanan. Jadi tegantung masing-masing diri mendapatkan kesadarannya di saat momen-momen yang dibutuhkan pengorbanannya sebagai bentuk kepeduliannya terhadap permintaan Tuhannya. Sekalipun adalah hal sepele, tetapi apa yang akan dikorbankannya adalah yang tinggal satu-satunya dia miliki, maka nilai pengorbanannya akan menjadi bernilai tinggi dan mulia.
Apalah arti berqurban 100 ekor sapi atau unta bagi seorang Raja atau Emir-emir Arab atau Pengusaha Minyak atau Konglomerat dan para CEO? Apalah artinya berqurban di kala kita sedang berkelebihan, atau bahkan sebaliknya, menyisihkan seperak demi seperak setiap harinya untuk ditabung agar dapat membeli kambing atau domba untuk nantinya saat hari raya Qurban (Idhul Adha), namun, sementara di sekeliling kita ada yang telah menjerit menahan lapar, ada yang tidak mampu berobat karena sakit, ada yang anaknya yang belum bayar sekolah, dan lain-lainnya yang telah sangat terdesak akan kebutuhannya. Ironis!!
Maka disitulah kita yang berkelebihan ada, di bumi ini, sebagai pelengkap dan perwujudan DIA Yang Maha Pemurah, Ar Rahman dan Ar Rahiiym. Di situ pulalah fitrah kemanusiaan kita terpanggil untuk mewujudkan rasa berserah diri (islam) yang menjadi rahmat bagi semesta alam, rahmatan lil ‘aalamiiyn. Dan bukan sebagai yang merusak serta saling menumpahkan darah (QS 2:30). Juga bukan sebagai yang riya (pamer dan sombong) serta enggan memberi bantuan (QS  107:1-7).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar