Google+ Followers

Senin, 27 Mei 2013

Bab II - MEYAKINI PARA MALAIKAT




Bab II
MEYAKINI PARA MALAIKAT
“Demi (malikat-malaikat) yang diutus membawa kebaikan, dan yang terbang dengan kencangnya, yang menyebarkan (rahmat Allah) seluas-luasnya, dan yang membedakan sejelas-jelasnya (antara yang benar dan yang salah), dan yang menyampaikan wahyu, untuk menolak alasan-alasan atau membawa peringatan, sungguh apa yang dijanjikan kepadamu pasti akan terjadi.
(QS 77:1-7)
B
eriman kepada para malaikat adalah termasuk dalam iman kepada yang ghaib, yang nyata tidak terlihat. Tetapi, bila telah dada dibuka oleh yang maha pemberi petunjuk, maka menjadi nyata dan terlihat. Dan mempercayai adanya para malaikat yang juga merupakan aparat Allah, adalah mempercayai pula kepada adanya Iblis dan Jin, yang merupakan termasuk kedalam ras malaikat, juga merupakan bagian dari mengimani kepada segala sesuatu yang ghaib, yaitu yang tidak dapat diketahui keberadaannya oleh indera kemanusiaan.
Namun bila Allah telah menghendaki, maka tentulah kemanusiaan akan dapat memahami dan melihat dengan pandangan mata hatinya yang telah bersih dari segala penyakit hati yang mengotori dan menghalangi pandangannya terhadap segala hakikat kebenaran.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat : sujudlah kamu kepada Adam! Maka sujudlah mereka kecuali iblis, dia enggan dan takabur dan adalah dia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS 2:34)
Pada ayat di atas, penafsirannya, malaikat yang membangkang dari sujud kepada Adam itulah yang disebut iblis. Karena pada ayat di atas, diterangkan bahwa Allah memerintahkan hanya kepada para malaikat, namun mengapa iblis sebagai yang enggan?  Hal ini menunjukkan, bahwa iblis adalah bagian dari ras malaikat (para aparat Allah). Jadi, keberadaan iblis adalah setelah adanya Adam. Sebab sebelum adanya Adam, mereka, para malaikat adalah makhluk Allah yang paling patuh dan selalu mensucikan nama-Nya (seperti yang disebutkan penggalan ayat 30 surah al Baqarah “..... Mereka (para malaikat) berkata, mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang membuat kerusakan padanya dan saling menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”). Dan semenjak itulah akhirnya iblis berprofesi sebagai penghasut setiap diri kemanusiaan kepada jalan yang sesat.
Dari penafsiran ayat tersebut, maka timbullah pemahaman, bahwa tidak patuh-nya iblis terhadap perintah Tuhannya adalah refleksi dari sifat ketidak patuhan kemanusiaan terhadap perintah Tuhannya untuk selalu berada di dalam jalan lurus-Nya. Sekalipun iblis menjadi yang tidak patuh terhadap Tuhannya, tetapi Allah sebagai Yang Maha Kuasa pun menghendaki hal tersebut terjadi. Sebab Dia mengetahui apa yang makhluk-Nya tidak ketahui, sebab dengan begitu Allah ingin membuktikan bahwa Dia telah menciptakan segala sesuatu, termasuk kemanusiaan sebagai ciptaan-Nya yang amat sempurna.
Juga ditegaskan lagi di QS al Baqarah ayat 102, tentang setan-setan, yaitu malaikat Harut dan Marut, yang mengajarkan ilmu sihir di Babilonia.
“..... Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan kepada seorangpun sebelum mengatakan, seungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya ...... (QS 2:102)
Dalam penciptaan, cahaya-Nya adalah sebagai unsur dasar segala macam ciptaan setiap makhluk Allah, termasuk tentunya pada penciptaan malaikat, cahaya selain bersifat menerangkan, ada pula yang bersifat panas. Mungkin, dari yang bersifat panas inilah malaikat pembangkang menjadi ada, dan disebut iblis oleh Allah SWT. Seperti kita tahu, malaikat tercipta dari cahaya, sedangkan iblis dan jin dari api.
Cahaya yang berubah menjadi api begitu banyak ditemui dalam kehidupan sehari-sehari. Prosesnya, untuk dapat berubah menjadi api, maka cahaya memerlukan benda yang mudah terbakar, dan bukan benda yang terbakar itulah api-nya, bukan pula terang-nya, tetapi nyala-nya. Jelas kita dapat membedakan antara wujud cahaya, terang, dan nyala api. Yaitu cahaya yang menjadikan terang yang kemanusiaan dapat mengambil manfaat dengannya sebagai petunjuk, juga cahaya yang menjadikan nyala api yang membakar sebagai hawa nafsu. Begitulah sifat yang berpasangan dari cahaya.
Dan keduanya cenderung amat membutuhkan benda (sebagai fasilitas) untuk diketahui sehingga bermanfaat keberadaannya. Semua benda menjadi terlihat ada, karena ada cahaya yang menyentuhnya. Terangnya pun ada pada benda itu. Akan tetapi, berhati-hati pulalah terhadap panas-nya cahaya, yang dapat berubah menjadi cahaya yang membakar. Ulasan tentang malaikat sebagai yang diciptakan dari cahaya melalui pancaran cahaya-Nya, atau energi dasar bagi penciptaan segala sesuatu akan juga diulas pada Kitab II Bagian ke-4, Lahir & Bathin secara lebih logis lagi, yang insya Allah, akan menambah keyakinan kita akan keberadaan dan pengaruh-nya sebagai aparat Allah yang bertugas membantu kemudahan terhadap kehidupan setiap diri kemanausiaan.
Keduanya pun dapat bertempat pada setiap diri kemanusiaan yang sebagai ‘benda’ agar fungsinya lebih berarti. Yang satunya menyampaikan petunjuk, sedangkan yang satunya lagi menghasut. Yang satunya memberi petunjuk dengan terang-nya, sedangkan yang satunya lagi menghasut dan membakar dengan panas-nya. Akan tetapi, ketahuilah, keduanya sungguh bermanfaat bagi setiap diri kemanusiaan. (Lihat kembali penjelasan sifat Hayyat pada Dua Puluh sifat Tuhan di awal bab keimanan)
Mengapa iblis membangkang dan menjadi musuh bagi setiap diri kemanusiaan?
Itulah ketetapan Allah. Dan pada diri kemanusiaan akan timbul dan bertambah kesempurnaannya dengan adanya iblis yang membangkang dan menjadi musuh, atau ujian bagi setiap diri kemanusiaan. Kesempurnaan adalah juga menyerupai kemenangan. Diperlukan suasana pertandingan (penyaringan) untuk sebuah kemenangan, penonton sebagai suporter yang membakar semangat dan pelatih sebagai pemberi petunjuk, serta wasit sebagai hakim yang memiliki hukum pertandingan. Itulah suasana sportivitas kehidupan dunia sebagai pembentukan insan-insan berkualitas yang diharapkan Allah sebagai pemilik dan penguasa Hukum yang Maha Sportif (fair play atau bersih dan adil).
Sebenarnya iblis akan hilang dari setiap diri kemanusiaan bila jiwa dapat menundukkan dan membuatnya bersujud, dengan tidak melayani segala bisikkannya dan bila selalu berada di wilayah yang diterangi cahaya-Nya (lebih dominan pengaruh malaikat-Nya). Allah menyebut jiwa ini sebagai jiwa yang tenang (nafs al muthma’inah), yang dapat mengatur atau mengelola hawa nafsu-nya kepada nafsu kebaikan.
Jadi sebenarnya, iblis adalah malaikat juga, dia akan tunduk patuh dan menjadi cahaya penerang atau petunjuk bagi jiwa, dan dapat pula membangkang menjadi api yang panas membakar hati, serta bujuk rayunya kepada api neraka yang menghinakan. Iblis seperti berada dan terbawa dalam aliran darah, mendorong hawa nafsu amarah maupun hawa nafsu keburukan lainnya, maka tensi darah pun melonjak naik, jantung berdetak cepat, maka hal tersebut akan mempengaruhi organ tubuh lainnya tanpa terkendali oleh yang secara halus Maha Mengendalikan dalam Pemeliharaan-Nya, akibat dari jiwa yang menjauhi cahaya-Nya. Maka ingatkan-lah terus jiwa dengan selalu menyebut nama-Nya (dzikr), agar hati menjadi damai, tenang dan tentram.
“Ia (iblis) berkata: Tuhanku, oleh karena Engkau telah menghukum aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi pandangan mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya.”  (QS 15:39)
“Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS 7:27)
Betapa banyak jalan dan cara iblis membisikkan hasutan-hasutannya agar diri (jiwa) terjerumus pada kehinaan. Iblis adalah sisi gelap, atau bisa disebut juga sisi negatif hati setiap diri kemanusiaan. Kekuatannya sama dengan malaikat tetapi intensitas pengaruhnya terhadap manusia amatlah sering disetiap waktu. Pada awalnya iblis adalah ras malaikat, tetapi setelah pembangkangannya terhadap perintah Allah tidak mau sujud (tunduk) kepada Adam as, maka Allah menamakannya iblis.
Tidaklah mungkin malaikat dapat melawan apa yang telah menjadi kehendak Allah, dan menjadi malaikat pembangkang yang disebut iblis, akan tetapi hal tersebut terjadi memang karena ketetapan-Nya pula. Ketetapan-Nya yang berupa qudrat-iradat yang dianugerahkan kepada kemanusiaan, yaitu memberikan dua pilihan jalan kefasikan atau ketakwaan.
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”  (QS 91:7-10)
Jadi mereka yang mengambil jalan kefasikan adalah mereka yang merubah para malaikat yang seharusnya tunduk sujud sebagai menjaga dan membantu-nya, menjadi malaikat pembangkang yang malah menyesatkan yang disebut iblis. Terkadang kemanusiaan tanpa sadar menjadi terhanyut oleh hawa nafs-nya sendiri, sehingga diri-nya sendirilah yang menciptakan iblis di dalam dadanya dari yang semula sebagai malaikat yang tunduk patuh membantu kehidupannya. Kelak, jika hal tersebut dibiarkan, sehingga dirinya hanyut oleh kesesatan, maka akan kembali kepada dirinya sendiri sebagai bencana yang akan disesalinya.
Pada dasarnya jiwa cenderung kepada hawa nafsunya, dan juga berketergantungan kepada petunjuk, tetapi bukan berarti semua nafsunya tidak dapat diatur atau dikelola dengan benar. Ini dapat dianalogikan kepada bibit penyakit atau bakteri atau virus yang ada didalam tubuh yang dapat dilemahkan (imune) sehingga tidak membahayakan atau bahkan malah dibuat sebagai fungsi kekebalan tubuh. Jiwa yang telah kebal atau imune terhadap godaan dan bujuk rayu iblis, jin, maupun bisikan setan, bahkan malah menundukkan dan menyuruh-nya untuk bersujud atau tunduk kepada diri-nya, bahkan menjadi sebagai yang menjaga dan membantu.
“Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat (manfaat kebaikan) melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.”  (QS 21:28)
Bila dicermati dan dipahami secara mendalam, dengan hati bersih dan netral dalam berfikir, sesungguhnya diri-nya sendirilah yang sebenarnya mewujudkan iblis itu hadir, yaitu hadir dengan sifat pembangkangan dan kesombongannya yang hendak menjerumuskan diri-nya kepada kehinaan`. Hadir semakin kuat mencengkeram jiwa kita selalu dalam pengaruhnya. Bila dirinya tak hendak menundukkan hawa nafsunya, maka iblis-nya pun akan terus tetap menjadi malaikat pembangkang sebagai yang akan terus selalu menyesatkan jiwa-nya.
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri......”  (QS 13:11)
Begitupun dengan merasakan keberadaan malaikat, bila selalu mengingat Allah dan bertawakal untuk terus berada pada cahaya-Nya maka terangnya (malaikat) akan semakin kuat mempengaruhi jiwanya. Jiwa yang secara tak sadar terus menjauhkan diri dari cahaya Tuhannya, maka justru kegelapannya yang menjadikan dirinya berada dalam kuasa penyesatan bujuk rayu iblis. Keberadaan hatinya yang gelap tanpa cahaya Tuhannya, membuat hatinya buta tak lagi dapat melihat kebenaran dari setiap segala sesuatu.
Sudah pada dasarnya pula setiap diri kemanusiaan menyukai terang, dan merasa takut di dalam kegelapan karena menjadi tidak mengetahui apa-apa, hatinya menjadi sempit karena keterbatasan mata memandang. Tetapi sayangnya jiwa tiada dapat menyadari ini hingga tidak dapat menerapkannya kedalam memahami akan tempat tujuan mana dia seharusnya bergantung dan mendapatkan petunjuk, perlindungan, dan pemeliharaan yang baik dan sempurna.
Bila telah dapat menerima dan memahami hal ini, maka bukan hanya menerima kebaikan dengan senang hati dan bersyukur, akan tetapi (harus) mau pula menerima keburukan dengan ikhlas berserah diri hanya kepada-Nya. Layaknya seperti menyambut dengan tanpa beban akan datangnya malam yang sepi dan membosankan, setelah siang yang melelahkan tapi mengasyikkan bagai sebuah permainan. Itulah menyadari kebaikan dan keburukan sebagai satu hal yang berpasangan, layaknya cahaya dan bayangannya. Pasti ada sisi gelapnya, selain sisi terangnya.
“Allah memilih para utusan (rasul) dari malaikat dan manusia.........  (QS 22:75)
Sekarang marilah kita sedikit lebih menajamkan pembahasan tentang wujud malaikat yang sesungguhnya telah lama hadir dan ikut berperan terhadap kehidupan kita, di dalam diri kita, di sekeliling kita, serta yang bukan hanya sesekali hadir tanpa kita sadari sebelumnya, tetapi di setiap denyut nadi serta tarikan dan helaan nafas sebagai gerak hidup atas perintah dan kehendak Dia Yang Maha Tunggal. Makna aparat Allah, yaitu para malaikat-Nya, bisa kita ketahui dari setelah menafsirkan setiap firman-Nya yang berada di dalam al Qur’an, dan Dia selalu menggunakan kata “Kami” untuk menunjukkan kekuasaan-Nya yang melalui perintah kepada setiap aparat-Nya untuk membawa suatu urusan (kehendak) Tuhannya. Marilah kita ambil satu  atau dua ayat sebagai contoh dalam penafsiran tentang aparat Allah,
“...... dan malaikat dalam naungan awan.........  (QS 2:210)
“Dia-lah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah yang tandus itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran”. (QS 7:57)
Makna ayat tersebut, adalah Dia yang sesungguhnya memerintah kepada malaikat (wujud angin) yang sebagai aparat-Nya untuk membawa (suatu perintah dari Dia) kabar gembira berupa rahmat-Nya (hujan) dalam wujud awan mendung kepada daerah atau wilayah dimana orang-orangnya telah mengharapkan kedatangan hujan itu. Setelah berada diatas wilayah tersebut, segala wujud partikel-partikel gas (juga para malaikat) yang berada disitu mengkondensasikan (suatu perintah dari Dia) awan mendung tersebut agar mengubahnya menjadi titik-titik air yang memiliki berat dan jatuh menjadi hujan.
Dan dengan hujan (air) itu, Allah memerintahkan kepada semua aparat-Nya yang berwujud unsur-unsur pendukung kehidupan di dalam permukaan bumi untuk menyuburkan (suatu perintah dari Dia) tanah tersebut agar bermanfaat pula terhadap aparat-Nya yang lain seperti tumbuh-tumbuhan yang juga sebagai penyampai rahmat Allah kepada seluruh makhluk-Nya. Dan begitulah seterusnya, serta berulang-ulang, sehingga rahmat-Nya tersebar merata kepada seluruh makhluk-Nya, yang ternyata adalah aparat-Nya pula. Itulah qudrat dan iradat (kuasa dan kehendak)-Nya melalui para aparat (malaikat)-Nya, yang pada akhirnya ternyata seluruh makhluknya adalah merupakan para aparat-Nya sebagai penyampai rahmat bagi semesta alam, rahmatan lil ‘aalamiiyn.
Sekarang, kita kembalikan pemahaman tersebut kepada wujud halus malaikat yang berupa cahaya, sebagai penyampai petunjuk, perintah, kuasa dan kehendak Allah. Segala sesuatu di alam ini pasti tersentuh cahaya, karena sebelum Allah menciptakan segala sesuatu, Dia menciptakan cahaya terlebih dahulu. Begitu pulalah yang dikatakan sains ilmu pengetahuan modern. Cahaya juga adalah energi. Dan setiap energi dapat berubah bentuk menjadi bentuk energi lainnya karena interaksinya dengan energi atau materi lainnya, semisal menjadi energi gerak, energi listrik, energi panas, energi bunyi, dan lainnya. Maka dengan cahaya itulah segala petunjuk, perintah dan kehendak Allah disampaikan kepada segala sesuatu atau makhluk-Nya. Kelak pada ulasan-ulasan pada bab-bab berikutnya dapat menambah lagi pemahaman kita terhadap wujud nyata malaikat, karena ulasan di belakang akan lebih terfokus pula keterkaitan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang lebih logis. Memang begitulah penyajiannya secara bertahap agar tak membosankan.
Segala energi, daya atau kekuatan yang tak terlihat di dalam alam inilah sesungguhnya yang bekerja dan tunduk atas perintah serta kehendak Dia, Allahu rabbul ‘aalamiiyn, Tuhan yang mencipta, menguasai, merahmati dan memelihara semesta alam. Kelak, penjelasan ulasan mengenai energi, daya atau kekuatan aparat-aparat Allah ini, yang insya Allah dapat membuka dada kita kepada pemahaman-pemahaman yang mengkokohkan kembali keimanan kepada-Nya.
Itulah nyatanya malaikat yang sebelumnya kita rasa ghaib tak terlihat oleh mata, dan nyata hanya berdasarkan keyakinan atau iman belaka. Mungkin pekerjaannya yang tak terlihat, akan tetapi hasil kerjanya, dan makna dari rentetan proses kejadian dalam pekerjaannya yang menjadi nyata terasa dan terlihat sehingga menjadi lebih mudah dalam memahami keberadaannya, apalagi oleh hati yang telah terbuka. Dan hanya Dia-lah sesungguhnya yang membuka dada kita. Karena para aparat-Nya sangat menanti-nati tugas yang akan diberikan kepadanya. Subhanallaah.
“Tiada seorangpun diantara kami (malaikat) melainkan mempunyai kekdudukan tertentu, dan sesungguhnya kami benar-benar bersaf-saf (antri bergiliran dalam menunaikan perintah Allah).” (QS 37:64-65)
Para malaikat, aparat-aparat (malaikat) Allah, diklasifikasikan berdasarkan kelompok tempat tugasnya, seperti minnallaahu yang berada di dalam kalbu atau hati, mii ‘indillahi yang berada bersama jasad, min dii’anfusihiim yang berada di luar jasad, dan tandziilal ‘adziizir-rahiim yang turun dan naik membawa rahmat Tuhan terbaru. Klasifikasi ini adalah sekedar untuk memudahkan dalam penguraiannya saja agar lebih terarah dari setiap yang dicoba untuk dipaparkan demi mencapai pemahaman secara bertahap. Insya Allah.
MALAIKAT  Minallahu
“Dan kamu akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya, dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil....... (QS 39:75)
Dari Allah (langsung di kalbu) diperintahkan kepada aparat-Nya, yang wilayah kerjanya di dalam kalbu atau sanubari manusia yang halus dan lembut. Itulah nyatanya yang di dalam sanubari selalu bersih dan murni karena diperintahkan langsung oleh yang Maha Halus dan Lembut, ar Rahman, melalui Jibril yang Qudus, kepada hati dan rasa manusia yang juga pada dasarnya diciptakan halus dan lembut, serta penuh kasih sayang. Maka semua perbuatan dipandang baik bila didasari maupun yang keluar dari sanubari, dan disebutlah sebagai niat yang tulus, murni atau ikhlas yang keluar dari sanubari yang paling dalam.
yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas,.....” (QS 53:5-6)
“..... Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mu’jizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus.....” (QS 2:253)
Begitulah peran malaikat ini kepada nabi-nabi, seperti nabi Isa AS dan nabi Muhammad SAW sebagai yang diperkuat olehnya. Kekuatan Jibril inilah yang menjaga segala ucap dan amal perbuatannya tetap berada pada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran dari Tuhannya. Begitulah contoh manusia-manusia yang sempurna. Maka lihatlah dan renungi pula mereka yang menolak atau mengingkari, seperti yang diterangkan lanjutan ayat tersebut di atas.
“.... Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada diantara mereka yang beriman dan ada (pula) diantara mereka yang kafir.....” (QS 2:253)
Tentulah mereka yang saling bertentangan adalah antara mereka yang beriman dan yang kafir. Mereka yang beriman adalah mereka yang telah membuka hatinya dari petunjuk Tuhannya yang dibawa malaikat suci penyampai petunjuk. Sedangkan mereka yang kafir adalah mereka yang menutup hatinya dari petunjuk Allah, yaitu mereka yang membiarkan hatinya penuh dengan kekotoran hawa nafsu serta pengakuan (ego)-nya. Sehingga cahaya (malaikat suci) yang membawa petunjuk tak dapat masuk menembus hati untuk menerangi akal sehatnya kepada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran dari Tuhannya. Keduanya adalah pasangan yang saling bertentangan, yang merasa kepentingannya akan terganggu.
“(Dia-lah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang memiliki Arsy, Yang mengutus Jibril dengan membawa perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, supaya dia memeperingatkan tentang Hari Pertemuan.” (QS 40:15)
Tidak hanya kepada nabi-nabi, begitupun dengan merasakan keberadaan malaikat Jibril pada diri-diri kemanusiaan, yaitu pada diri-diri yang selalu menjaga kesadarannya, selalu ingat kepada Tuhannya dalam setiap geraknya. Keberadaan malikat kudus (suci) ini yang berada di dalam kalbu setiap diri kemanusiaan ini adalah mutlak, hanya saja perannya sangat dipengaruhi oleh tingkat kebersihan atau kesucian hati masing-masing diri kemanusiaannya.
yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas,.....” (QS 53:5-6)
Bila selalu mengingat Allah dan bertawakal untuk terus berada pada cahaya-Nya maka terangnya (malaikat) akan semakin kuat mempengaruhi jiwanya, dan sebagai yang memberi petunjuk pada setiap gerak amal perbuatannya selalu berada dalam nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Jiwa yang secara tak sadar terus menjauhkan diri dari cahaya Tuhannya, maka justru dia semakin mendekatkan dirinya kepada kesesatan bujuk rayu iblis.
Akan tetapi, sekalipun kalbu ini dipenuhi kemurnian, di permukaan luarnya dapat dipenuhi oleh debu-debu kekotoran, yang membuat niatnya menjadi melenceng akibat hawa-hawa nafs yang dibisikan setan yang menghasut hendak menjerumuskan, dan mengeluarkannya menjadi amal perbuatan yang buruk dan tidak murni lagi terkontaminasi oleh hawa nafsu keinginan serta kebutuhannya yang berlebihan.
“Katakanlah, ruhulkudus menurunkan al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan kebenaran, agar meneguhkan (hati) orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS 16:102)
Semakin pekatnya kekotoran yang menyelimuti permukaan kalbu tersebut, maka perintah-perintah dari yang Maha Tunggal yang berupa gelombang-gelombang cahaya (wujud aparat minallahu, malaikat) tidak dapat menembus keluar membawa kebenaran dari Tuhannya untuk disampaikan kepada setiap aparat-aparat lainnya yang bertugas menyampaikan pula. Dan terjadilah ketidak harmonisan suatu urusan, mal function pada sistem penyampaian. Akibatnya adalah, pola hidup yang salah kaprah dari setiap pola pikir yang salah. Dan ini dapat terus menyebabkan kesalahan kepada setiap niat dan perbuatan, seperti efek domino.
Kembali kepada yang Tunggal, yang terasa berada pada sanubari yang paling dalam, adalah cara terbaik untuk membenahinya, sambil membersihkan yang pekat menyelimuti kalbu atau hati, menghindari setiap niat serta perbuatan buruk agar tidak menambah pekat lagi kalbu kita. Krena kepekatannyalah yang akan menutupi kalbunya, sehingga cahaya kebenaran-Nya tidak dapat menembus keluar mengiringi setiap niat, ucap, perbuatannya.
“Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS 53:6)
Banyak-banyak  mengingat-Nya, shalat, dan berpuasa adalah cara-cara memperbaiki kembali rusaknya sistem komunikasi antara Allah, malaikat-Nya, serta jiwa kita yang sangat membutuhkan setiap cahaya petunjuk dari rahmat-Nya. Jangan biarkan karunia agung-Nya menjadi hal yang sia-sia, apalagi berubah menjadi keburukan akibat disesatkan oleh iblis dan pengakuan (ego)-nya. Tidaklah setiap jiwa diciptakan kecuali hanya untuk sebagai perwujudan-Nya di alam, yaitu sebagai khalifah yang saling menebarkan rahmat Tuhannya kepada sesama-nya. Itulah fitrah kemanusiaan-nya.
MALAIKAT  Min Indi‘anfusihiim
“...... dan malaikat dalam naungan awan.........  (QS 2:210)
“Dia-lah yang meniupkan angin sebagai ‘pembawa’ kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah yang tandus itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran”. (QS 7:57)
Inilah para malaikat yang wilayah tugas-nya di bumi, yaitu aparat yang dari sisi luar atau di sekitar diri kemanusiaan. Para aparat Allah yang tak terhingga jumlahnya tersebut, sesungguhnya berada di mana-mana tak terhitung jumlahnya, dan secara tak disadari, telah ikut berperan dan mempengaruhi kepada diri kita dalam ucap, gerak, serta perbuatan setiap diri kemanusiaan bersama segenap makhluk Allah lainnya.
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, buatlah sarang-sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap buah dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah tiu, keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir.”  (QS 16:68-69)
Ternyata tidak hanya pada kenabian di kemanusiaan yang menerima wahyu dari Allah, melainkan hewan pun dapat menerima wahyu. Bahkan tidak hanya hewan, .... dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang terdekat dengan bintang-bintang yang cemerlang .... (QS 41:12)
Seperti yang dijelaskan ayat (QS 16:68-69) di atas, pada wujud-wujudnya yang nyata dan dapat kita lihat dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari dan sangat berperan serta mempengaruhi diri kita. Dan segala wujud yang secara langsung berinteraksi dengan dengan kita, seperti anak-istri dan orang tua, harta benda, perhiasan, rumah tinggal, kendaraan, ladang pekerjaan, sesungguhnya adalah ‘aparat Allah’ yang juga merupakan sebagai sarana dan fasilitas bagi kemudahan kita yang ternyata bukanlah milik dan dibawah kuasa serta perintah kita, melainkan hanyalah anugerah dari Dia yang Maha Pemurah untuk dikelola, layaknya segala organ-organ yang berada di dalam tubuh atau jasad.
“Katakanlah:  jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan rasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”  (QS 9:24)
Segalanya yang tersebut pada ayat di atas, jelaslah atas anugerah Allah, akan tetapi dapat pula menjadi godaan atau ujian bagi yang menerimanya, saat kecintaan terhadap-nya melebihi kecintaan kepada-Nya. Makna ayat tersebut adalah, jangan sampai diri terkecoh dari rasa memiliki yang sesungguhnya ternyata bukanlah milik kita. Sehingga bila semua itu hilang atau pergi, tidaklah menjadi penyakit bagi hati dan jiwa.
Dengan begitu, kita sendirilah yang sesungguhnya ikut serta ‘menciptakan’ surga atau neraka yang juga diperuntukkan bagi kita sendiri di alam masih dalam kehidupan.
Dalam kehidupannya, diri kemanusiaan, jelas saling berinteraksi dengan sekitarnya, maka bila telah disadari, bahwa sesungguhnya kita jelas berhadapan dengan ‘para malaikat’ yang selain sebagai penyampai perintah dan kehendak Allah, juga merupakan saksi atas amal perbuatan kita. Keluarga, harta kekayaan, pekerjaan, rumah tinggal, dan kendaraan yang kesemuanya tersebut aadalah anugerah karunia-Nya, adalah pula aparat (malaikat) Allah yang dapat mempermudah kehidupan diri kita, akan tetapi dapat pula menjadi musuh kita dan menjadi malaikat pembangkang (iblis) kita yang menjerumuskan kita kepada kesesatan dan kehinaan melalui godaan dan bujuk rayunya yang terlihat indah di pandangan.
“Ia (iblis) berkata: Tuhanku, oleh karena Engkau telah menghukum aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi pandangan mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya”. (QS 15:39)
Insya Allah, uraian ini dapat membuka kesadaran kita, sehingga akan lebih bermakna dalam setiap niat, ucap, dan perbuatan yang sesungguhnya ternyata diperintahkan oleh Dia yang Maha Tunggal. Dia yang Maha Suci dari kesalahan dan keburukan. Oleh sebab itu sucikanlah segala niat, ucap, dan perbuatan karena diri kita adalah milik-Nya.
MALAIKAT Min ‘Indillahi
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah......  (QS 13:11)
Banyak hal yang disadari bahwa bukan diri kita yang memerintahkan, seperti halnya telinga bersama perangkatnya yang  dapat mendengar, mata bersama perangkatnya yang dapat melihat, mulut bersama perangkatnya yang dapat berbicara, kita hanya rasa ingin-nya, yang didasari pengaruh nafs (jiwa). Hanya Dia-lah yang memerintahkan kepada aparat-Nya agar bekerja sebagai penyampai perintah dan kehendak Allah. Aparat-aparat inilah yang merupakan malaikat min ‘indillahi yang wilayah kerjanya di dalam tubuh atau jasad manusia, termasuk organ-organnya.
“....dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”  (QS 16:78)
Dan kepada hal yang lebih halus lagi, dan kita sadari pula bahwa bukan perintah dari diri kita, seperti perintah kepada bertumbuh panjangnya kuku-kuku pada jari tangan dan bertumbuh panjangnya rambut. Dan juga pada yang tak terlihat nyata oleh mata kita, perintah kepada jantung untuk memompa darah dan mengalirinya keseluruh jaringan untuk menyebarkan saripati makanan, serta memberi perintah kepada paru-paru untuk memisahkan oksigen dari gas-gas lainnya yang ikut masuk - yang diperlukan untuk mengubah suplay makanan tersebut menjadi energi bagi tubuh dalam proses pembakaran saripati makanan. Belum lagi mengenai kehidupan milyaran sel-sel tubuh yang hidup dan mati kemudian berkembang biak pula pada setiap jaringan pembentuk organ tubuh, yang menciptakan sistem kehidupan di dalam alam tubuh atau jasad diri kita, yang pula kita tidak menyadarinya.
“.... dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia).” (QS 79:5)
Yang kita sadari hanya tinggal sakit atau nikmat-nya saja. Bila sakit, maka bermohon ampun. Dan bila nikmat, bersyukur. Tetapi tidak menyadari peran keberadaan aparat-aparat Allah atau para malaikat yang berada di dalam tubuh atau jasad yang telah bekerja atas suatu perintah dari Dia yang Maha Halus lagi Maha Kuasa yang berada pada kalbu yang paling dalam.
Biasakanlah mengakrabkan hati dan jiwa-nya dengan mereka para malaikat (aparat Allah) yang telah berjasa bekerja di dalam jasad dengan menjadikan mereka sebagai sahabat, dan jangan biarkan jiwa kita sampai tak mengenal mereka yang sesungguhnya telah mempermudah kehidupan kita selama ini.
“Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat (manfaat kebaikan) melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.”  (QS 21:28)
Bila demikian, maka tentu sekarang kita telah menyadari seikhlasnya, bahwa tubuh atau jasad adalah bukanlah milik kita. Dan tentu dengan segala perangkat di dalam dan di permukaan tubuh yaitu organ-organ tubuh, baik jantung, paru-paru, hati, lambung, dan lainnya yang kelihatan seperti kuku-kuku, rambut-rambut, hingga kepada kulit. Yang sesungguhnya semua itu adalah milik-Nya atas kuasa dan perintah-Nya. Justru diri kita sendirilah yang hanya menerima sakit dan nikmatnya, yaitu neraka dan surganya. Karena itu sucikanlah dari kekotoran yang menyebabkan penyakit. Penyakit jasad dan jiwa. Kekotoran yang menyesatkan jiwa dari jalan lurus-Nya sebagai jalan kembali kepada-Nya, yaitu tujuan sejati dari segala tujuan.
Makna yang lebih dalam dan menjadi lebih berkembang dari uraian di atas adalah, atas rahmat Allah-lah timbul pula ilmu kedokteran untuk mengatasi penyakit pada tubuh, sehingga tercipta kehidupan yang lebih kompleks untuk berkembangnya struktur-struktur sosial kehidupan lainnya, yaitu profesi pendukungnya, seperti dokter, perawat, apoteker, farmasi, sampai kepada administrasinya maupun keuangannya. Begitupun industri-industri pendukungnya yang ikut bertumbuh.
Akan tetapi, bila kita lebih dalam lagi mengembalikan pemahaman berfikir kepada kuasa dan kehendak Allah, lebih ekstrim, semua itu tidak perlu, toh, dokternya pun selalu mengatakan bahwa kesembuhan ada di tangan Allah. Dengan begitu, maka timbullah pemahaman atau kesadaran ruhani yang religius, bahwa sesungguhnya rasa sakit adalah suatu pembersihan diri dari dosa-dosa akibat perbuatan sebelumnya. Jika harus berobat dan mengeluarkan uang demi kesembuhan, maka itulah pembersihannya. Dan bila memang sembuh, berarti karena ‘uang’ itulah maka dosa harus dibersihkan. Itulah nyatanya keseimbangan atau keadilan di alam, hisab.
“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan) supaya Dia mengeluarkanmu dari kegelapan kepada cahaya. Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang beriman.” (QS 33:43)
Ternyata diri bersama wujud kita pun terdiri dari aparat-aparat (malaikat-malaikat) Allah, utusan yang menjadikan setiap segala sesuatu menjadi manfaat (rahmat-Nya pula), baik yang di luar jasad maupun yang berada di dalam jasad akan menjadi bermanfaat, menjadi rahmat yang banyak untuk kepada yang banyak. Itulah rupa nikmat yang sesungguhnya. Bahkan secara tak disadari, ternyata diri kita pun ikut berperan sebagai aparat Allah terhadap pihak lain, yang tetap dalam naungan kehendak Allah. Dan ternyata menjadi bagian dari seluruh aparat-Nya dalam suatu sistem semesta yang telah menjadi ketetapan (sunathullah) dalam kehendak-Nya. Sempurna.
MALAIKAT  Tandziilal ‘Adziizir-rahiim
Bermakana aparat yang naik dan turun (bergerak vertikal) untuk suatu urusan yang atas perintah dan kehendak Allah. Merekalah yang bekerja sebagai penyampai cahaya-cahaya yang berada di langit agar sampai di bumi. Bintang-bintang, matahari, dan bulan adalah sumber-sumber cahaya bagi keseimbangan semesta dan amat dibutuhkan oleh kehidupan di bumi.
“.....Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) benar......” [QS 30:8]
Betapa pentingnya urusan itu, bagi kehidupan di bumi, sampai-sampai para malaikat harus turun naik antara langit dan bumi, silih berganti setiap saatnya, yang harus ditempuh dengan kecepatan yang amat tinggi, teramat cepat. Bila cahaya matahari saja yang paling dekat dengan bumi harus menempuh perjalanan selama 8 menit (asumsi sains, kecepatan cahaya adalah 300 ribu Km per detik) untuk sampai di permukaan bumi, tidak bisa dibayangkan bintang-bintang yang jaraknya jutaan kali lipat dari jarak bumi ke matahari (± 150 juta Km).
“Demi (malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan (malaikat) yang mendahului dengan kencang.” (QS 79:3-4)
“Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari yang setara dengan lima puluh ribu tahun.” (QS 70:4)
Perkembangan ciptaan-Nya bertahap, diawali dengan pancaran cahaya-Nya, kemudian menciptakan Alam, dengan memisahkan bumi dan langit yang sebelumnya satu kesatuan (QS 21:30), dan membagi langit menjadi tujuh lapisan, dan mengisi langit yang terdekat dengan bintang-bintang (QS 41:12). Kemudian pada penciptaan kehidupan di bumi yang sebelumnya mati, gunung-gunung yang dipancangkan, ditumbuhkan-Nya dengan air segala jenis tumbuh-tumbuhan, sebagai bumi yang telah dihamparkan. Kemudian diciptakan-Nya pula hewan-hewan. Sehingga layaklah kemudian untuk kehidupan manusia, dan akhirnya diciptakanlah manusia setelah semua persyaratan kehidupan manusia telah ada (QS 15:19-20).
Pikirkanlah, betapa teratur dan terencananya proses penciptaan antara yang satu dengan yang lainnya, penciptaan alam (tempat), bintang-bintang dan bumi sebagai tempat tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, kemudian hewan-hewan yang membutuhkan tumbuhan untuk kehidupannya, kemudian hewan-hewan carnivora, barulah kemudian diciptakan-Nya manusia yang telah tersediakan segala kebutuhan untuk keberlangsungan hidupnya.
Lihat dan pikirkanlah, seluruh ciptaan-Nya, alam yang tumbuh berkembang, bintang-bintang yang juga tumbuh berkembang, bumi yang tidak lepas dari pertumbuhan dan perkembangannya, sekalipun kita sebut mereka itu adalah benda mati ternyata hidup dan berkembang, mengalami perubahan bentuk, tidak diam, mati ataupun musnah. Mereka tetaplah ada sekalipun pada suatu (waktu yang telah ditetapkan-Nya) terurai tetapi akan kembali lagi ke bentuk semula, begitu terus berulang sebagai siklus ketetapan dari-Nya (sunathullah).
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat  tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang selalu mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (sambil berkata), ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” [QS 3:190-191]
Dan Dia-lah yang memerintahkan dalam setiap urusan-Nya kepada para aparat-Nya, termasuk urusan dari langit ke bumi kepada para Malaikat Tandziilal ‘Adziizir-rahiim. Yang dalam setiap pekerjaannya melibatkan gelombang cahaya yang merupakan energi, sebagai unsur dasar penciptaan-nya. Energi cahaya yang dipancarkan membanjiri bumi baik siang maupun malam adalah energi yang baru untuk menggantikan energi lama yang telah berubah bentuk karena pemakaian oleh makhluk-makhluk di bumi. Begitulah rahmat Allah kepada penduduk bumi disetiap detiknya, tanpa pernah berhenti semenjak diciptakannya semesta alam sampai saat ini, bahkan hingga akhir zaman.
Sungguh telah lupa mereka yang mengatakan, bahwa rezeki tidak turun dari langit. Padahal segala sesuatu yang menunjang kehidupan mereka adalah karena limpahan energi cahaya yang turun dari langit ke bumi sebagai rahmat-Nya. Paling tidak adalah hujan yang turun dari langit, dan dengan hujan tersebut Allah tumbuhkan segala sesuatu yang dibutuhkan mereka. Apa jadinya bumi bila tidak turun hujan? Apakah uang menjadi berharga?
Wujudnya dalam bentuk energi cahaya yang sesungguhnya adalah malaikat, yaitu aparat Allah, yang telah memakmurkan kehidupan di bumi. Cahaya sebagai energi yang memberi kekuatan, dan cahaya sebagai petunjuk kepada ilmu dan pengetahuan, yang keduanya adalah merupakan rahmat Allah Yang Maha Pemurah. Dengan cahaya sebagai energi maka kehidupannya menjadi hidup dan berkembang semakin menyempurnakan. Dan dengan cahaya sebagai petunjuk kepada ilmu dan pengetahuan, nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, serta membawa kepada kemudahan dan keselamatan.
Sifat wujudnya itulah yang dimanfaatkan manusia dalam bentuk energi sebagai sarana dan fasilitas bagi kemudahan dalam setiap kehidupannya. Limpahan energi cahaya, baik siang maupun malam, yang sampai ke bumi adalah sebagai rahmat selain termasuk kepada makhluk-makhluk lainnya yang demi keperluan manusia. Limpahan energi-energi yang tiada pernah berhenti tersebutlah, yang sesungguhnya, menjadikan segala sesuatu dapat terus melangsungkan gerak kehidupannya.
Juga dimanfaatkan lebih jauh oleh manusia dengan mengubahnya menjadi energi-energi yang lain, seperti gelombang elektro magnetik untuk telekomunikasi yang menggunakan satelit, seperti radio, televisi, telephone, hingga jaringan internet yang telah dapat mencakup dunia dalam waktu yang sangat singkat. Perkembangan tekhnologi yang ‘menggunakan’ para malaikat tandziilal ‘adziizir-rahiim ini begitu pesat, sayang tak disadari wujud sesungguh-nya. Yang dengan menyadari itulah, betapa besar peran-nya (malikat) sebagai wujud bukti kekuasaan Allah terhadap manusia. Maka, Dia dalam setiap firman-Nya selalu menggunakan kata Kami yang menyatakan peran aparat-aparat Allah untuk menjalankan kehendak-Nya.
Itulah sesungguhnya malaikat, sebagai aparat-aparat yang diperintah Allah untuk tunduk kepada kemanusiaan, menjaga, membawa petunjuk dan memudahkan. Itu pulalah yang atas rahmat Allah, yang sesungguhnya dikehendaki Allah agar setiap diri kemanusiaan pun beriman terhadap keberadaan para malaikat-Nya, bukan malah menjadikannya pembangkang akibat dari kesesatan jiwanya sendiri.
Menjadi teguh imannya karena tahu dan mengenal wujud-nya, sifat-nya, dan pekerjaan-nya, yang selalu tidak lepas mengiringi demi kemudahan kita. Agar kita selalu tidak lepas dari rasa bersyukur atas setiap nikmat dari rahmat Allah yang tiada henti-hentinya disetiap mili-detiknya kehidupan. Subhanallahu walhamdulillahu la ilaha ilallahu akbar, wa laa hawlaa wa laa quwwata illa billahil alliiyyul azhiim.
Diri yang ber-Kemalaikatan
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah. Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS 41:30)
Tentunya adalah juga manusia yang telah berketuhanan. Tidaklah sulit mengimani keberadaan malaikat dan kemudian ikut termasuk menjadi aparat Allah seperti malaikat, bila telah mengenal Tuhannya. Karena keterkaitan hubungan antara yang mengabdi dan yang diabdi, yang diperintah dan yang memerintah, serta yang dipelihara dan yang memelihara. Maka kemudian ternyata telah dapat mengenali diri-nya sendiri.
Menyadari keberadaaan dan wujud malaikat yang ternyata telah akrab menyertai kehidupan manusia dalam setiap pikir, niat, ucap, serta langkah perbuatannya, baik yang berada di dalam tubuh jasadnya maupun yang di luar dan jauh nun di sana. Ternyata semua dalam sistem kekuasaan semesta milik Allahu rabbul ‘aalamiyin.
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah......  (QS 13:11)
Ya, Allah yang sesungguhnya memerintah, menguasai, melindungi, serta memelihara segala sesuatu, termasuk diri dan jasadnya, melalui para malaikat-Nya sebagai penyampai setiap perintah dan kehendak-Nya kepada setiap organ tubuh kemanusiaan-nya, sebagai satu kesatuan sistem komunikasi individu untuk berinteraksi dengan inter individu  lainnya dalam komunitas yang lebih global lagi. Sistem Semesta milik yang Maha Tunggal.
Kecenderungan diri kemanusiaan adalah pada hawa nafs-nya yang lebih banyak membawanya terjerumus pada kekotoran dan kehinaan, dan pada dasarnya pula diri-nya telah dianugerahi keilahian (ketuhanan), sebagai hawa illahi, yang disertai para aparat-Nya (malaikat) sebagai penyeimbang ambisi dari hawa nafs-nya, agar setiap amal perbuatannya terjaga pada jalan lurus, yaitu jalan yang menuju keselamatan dan kenikmatan sejati.
Mengambil makna dari kisah penciptaan Adam As, yang terjerumus oleh bujuk rayu iblis yang menyesatkan sehingga menimbulkan penyesalan pada diri-nya. Padahal sesungguhnya iblis tidak akan ada bila telah ditundukkan (bersujud) seperti malaikat bersujud, yang merupakan asal ras-nya, tunduk dan bersujud.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, sujudlah kamu kepada Adam! Maka merekapun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir”. (QS 2:34)
Akan tetapi karena timbulnya pengakuan (ego) yang mendominasi jiwa, maka iblis pun akan hadir, karena dia menyukai sifat sombong tersebut. Disaat itulah iblis lebih mendapat kemudahan dalam usahanya untuk menjerumuskan setiap diri kemanusiaan. Dengan demikian, sesungguhnya, dirinya sendirilah yang menciptakan iblis-nya. Tetaplah menjaga malaikat agar tetap sebagai malaikat yang menjaga, membantu dan menunjukkan diri kita seperti kehendak-Nya, jangan biarkan mereka berubah menjadi malaikat pembangkang yang disebut iblis (QS 2:34), yang justru sifatnya yang ingin menjerumuskan diri kemanusiaan kepada kesesatan dan kehinaan.
Dan Allah pun, sesungguhnya pula, telah menunjuki kepada kemanusiaan cara jitu agar iblis tunduk pada diri kemanusiaan. Yaitu, keikhlasan dalam setiap gerak amal perbuatan yang semata karena dan kepada Allah.
“(Iblis) menjawab: demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambamu yang ikhlas diantara mereka”. (QS 38:82-83)
Berangkat dari pemahaman itulah, manusia yang telah berada di dalam ‘istana sadar’, memahami bahwa sesungguhnya dirinya hampa, bagaikan hanya setitik pasir diantara pasir-pasir yang terdapat di gurun sahara, yang dapat saja hilang terbang terbawa angin. Diri yang telah hilang aku-nya (ego) dan lebih menghidupkan Aku-nya (Allah) di dalam hatinya serta mengeluarkannya kepada segala bentuk amal perbuatan yang terpuji.
Dirinya yang telah menyadari, bahwa dirinya tak memeiliki peran sedikitpun atas apa-apa yang terjadi pada diri dan jasadnya, juga terhadap apa yang terjadi di luar dirinya. Segala sesuatunya adalah berkat peran para aparat (malaikat) Allah yang bekerja dibawah kehendak dan kuasa-Nya. Sedikit saja, bila dirinya merasa memiliki peran atas apa yang terjadi, maka bersiaplah menanggung konsekuensi atas hawa nafsu dan pengakuan (ego)-nya tersebut. Kepada orangtua yang merasa memiliki anak-anak yang amat dicintainya, maka rasakanlah ketika anaknya mulai menjadi pembantah. Kepada yang merasa memiliki harta yang amat dicintainya, maka rasakanlah ketika harta itu pergi dan hilang darinya. Juga yang merasa memiliki jabatan yang membanggakan, maka rasakanlah ketika jabatan tersebut lepas atau telah habis masanya.
Seperti seorang yang telah bekerja keras siang dan malam demi keluarga, tiba-tiba merasa kecewa setelah mengetahui anaknya ternyata kecanduan narkoba. Itulah konsekuensi yang harus ditanggungnya, karena sibuk dengan bekerja keras maka menjadi lupa pada hal-hal penting lainnya. Dirinya telah disesatkan pandangan indah iblis akan kebutuhan kehidupan dunia, sehingga menjadi terhalanglah pandangan-pandangan lainnya yang juga sebagai yang tak bisa dilalaikan. Karena merasa perannya dibutuhkan untuk lebih keras lagi dalam bekerja supaya kebutuhan-kebutuhan materi keluarganya dapat terpenuhi, dengan demikian, maka diharapkannya-lah agar keluarganya dapat memahami dan membantu meringankan urusan-urusan lainnya selain mencari nafkah, atau menyerahkan kepada istrinya sendirian dalam hal urusan pendidikan anak-anaknya.
Segala sesuatu, untuk mendapatkan hasil yang besar, tentu memerlukan pengorbanan yang besar pula. Begitulah keseimbangan yang telah ditetapkan Allah sebagai hukum mutlak yang berlaku di alam. “..... dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.” (QS 55:7-9). Dan berlebihan dari keseimbangan yang telah ditetapkan-Nya pun dapat merupakan ancaman yang kelak akan menyulikan dirinya sendiri.
Keseimbangan atau keadilan harus tegak di alam ini, agar tidak kembali sebagai yang merugikan dirinya sendiri. Dan menjadilah diri-diri yang terpuji (muhammad) di alam, sebagai perwujudan dari Dia Yang Maha Terpuji.