Jumat, 07 Juni 2013

BAYANG KEGELAPAN



M
aka menjadi salah-lah siapapun yang menganggap dirinya-lah yang paling benar. Kebenaran hanyalah milik Allah, dan DIA-lah Kebenaran Sejati (Al Haqq). Tiada sesuatupun di semesta alam ini sebagai yang mutlak benar, kebenarannya hanyalah sementara, dan dibalik kebenarannya selalu dibayangi  kesalahan atau kecacatan yang akan hadir pada waktunya kemudian.
Segala sesuatu yang ada dan tercipta di semesta alam ini adalah merupakan perwujudan atau bias dari DIA Yang Maha Tunggal, menjadi banyak dan beragam yang masing-masingnya menjadi saling memiliki sepasang kebenaran dan kesalahannya. Begitulah cahaya-Nya ketika sampai di alam kemudian menyentuh segala sesuatu materi atau benda, maka menjadi ada-lah bayangannya yang sebagai kegelapan.
“...... Dan ingatlah Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: semoga Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS 18:24)
Sehingga, bila cahaya petunjuk Allah datang dan menyentuh dirimu, dikarenakan hawa nafsu dirimulah maka bayang kegelapannya menjadi ada dan tercipta. Jika hatimu dapat jujur memahami, hawa nafsu dirimu sendiri-lah yang sesungguhnya menciptakan iblis sebagai malaikat pembangkang yang tak mau tunduk patuh membantu kemanusiaanmu. Ya, dialah yang semula adalah malaikat yang ketika diperintah oleh Tuhanmu untuk sujud kepada wujud kemanusiaan tetapi malah menjadi iblis yang membangkang dan menjadi musuh yang nyata (QS 2:34). Dan bukanlah dia yang tak tunduk perintah Tuhannya, melainkan hawa nafsu diri kitalah yang sesungguhnya tak tunduk patuh kepada Tuhannya. Renungkanlah.......
Tiada sesuatupun yang luput dari rahmat Allah, termasuk cahaya petunjuk (hidayah)-Nya. Seluruhnya, segala sesuatu menerima cahaya-Nya, hanya karena kegelapan jiwanya sendirilah yang menyebabkan pengaruh cahaya-Nya tak bermakna baginya. Sekalipun demikian, Allah tetap selalu memberikan karunia cahaya-Nya dalam bentuk energi kepada seluruh segala sesuatu yang hidup dan berkembang, bahkan apa-apa yang hidup dan berkembang di alam tubuh (jasad)-mu agar engkau dapat tetap hidup dan segera menyadari serta memahami untuk keluar dari kegelapan yang menyelimuti jiwamu. Namun kebanyakan kita tidak bersyukur akan nikmat rahmat-Nya tersebut.
“(Iblis) menjawab: demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambamu yang ikhlas diantara mereka.”  (QS 38:82-83)
Maka semakin tersesatlah mereka yang taqlid buta merasa pemahamannya adalah sebagai yang paling benar, dengan menyingkirkan segala apa yang di sekitarnya yang ternyata juga merupakan petunjuk dari Tuhannya. Dan bukan tak mungkin pemahaman kita terhadap agama justru malah menyesatkan jiwa kita, dikarenakan taqlid buta tak hendak melihat berbagai kebenaran yang ada pada sekitar kita. Buktinya, banyak terjadi perselisihan antar umat beragama dengan merusak hingga saling menumpahkan darah. Bahkan lebih sering lagi terjadi perselisihan antar sekte atau aliran dan golongan dalam satu umat agama tertentu.
Sebagai yang merasa paling benar sendiri inilah sebagai awal pemicu setiap perselisihan, kemudian mengeluarkannya dalam bentuk saling cerca, saling hina dan saling merendahkan. Dan yang tidak kalah parahnya adalah dengan mengatas namakan Tuhannya hendak memaksakan kehendaknya agar orang lain beriman seperti dirinya beriman. Itulah akibat sebagai yang merasa paling benar yang justru mengalahkan kehendak Tuhannya agar mereka menjadi rahmat bagi semesta alam, rahmatan lil ‘aalamiiyn.

“........ dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.....”  (QS 29:45)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar