Minggu, 24 November 2013

Segala Sesuatu Berasal Dari Pancaran CAHAYA-NYA (Nur Muhammad, Cahaya Yang Maha Terpuji)

Dari atom sampai bintang dan dari sel sampai pada wujud manusia seutuhnya, adalah memiliki keidentikan struktur penyusunannya. Pola yang diterapkan oleh suatu Yang Tunggal dalam setiap penciptaan-Nya. Dialah yang meng-awali dan meng-akhiri, Dialah yang tak ber-awal dan tak ber-akhir, Dialah yang Maha Hidup dan Maha Mandiri. Dialah yang tidak ber-anak dan tidak diper-anak-an. Dialah Allah tuhan yang Tunggal. Dan segala sesuatu bergantung kepada-Nya.
“,,,,,Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya.....”  (QS 7:37)
“.........melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak pula yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”  (QS 10:61)
 “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan .”  (QS 6:38)
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah ataupun yang kering, melainkan tertulis di dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”  (QS 6:59)
“............ Semuanya tertulis di dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”  (QS 11:6)
Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, bahwa segala sesuatu materi, baik yang diklasifikasikan sebagai makhluk hidup maupun materi yang disebut benda mati, memiliki energi bawaan-nya yang disebut pilinan rantai genetika (pada sel makhluk hidup, atau DNA) dan pilinan rantai energi (pada energi di dalam partikel materi). Keduanya inilah yang sama-sama berfungsi sebagai cetak biru arah gerak hidup-nya, dalam bahasa ruhani adalah kodrat dan iradat yang telah ditetapkan Tuhannya. Dan dalam bahasa Al Qur’an, adalah sebagai kitab-nya yang nyata (kitab mubiyn).
“Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi Yang Memelihara, tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung.”  (QS 2:255)
Inilah sesungguhnya, sebagai dasar pijakan akal dan pemikiran, bahwa Allah tiada pernah tersentuh kelelahan, kerepotan, ataupun rasa kantuk dalam mencipta, menguasai, hingga memelihara segala sesuatu di alam ini berikut isinya yang tak terhitung banyaknya. Karena Dia telah menciptakannya secara sistematis dan amat sempurna. Dari sinilah, bahwa segala sesuatunya tiada yang lepas telah tercatat dan ditetapkan arah gerak hidup-nya oleh Allah, sebagai ar rahmaan. Dia Yang Maha Pemurah, maka jelas kemurahan-Nya adalah merahmati segala sesuatu yang diciptakan-Nya, makhluk-Nya, yang tersebar seantero jagad raya ini, maka Dia tentunya mengetahui segala sesuatu itu, disebutlah Dia sebagai Yang Maha Mengetahui. Dengan pengetahuan-Nya tentu membuatnya tak pernah tersentuh kelelahan,  kerepotan, ataupun rasa kantuk di setiap waktu, maka disebutlah Dia sebagai Yang Maha Kuasa.
“Sucikanlah nama Tuhan-mu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (ciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar dan memberi petunjuk.” (QS 87:1-3)
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang (kecacatan). Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang (cacat)?.”  (QS 67:3)
“Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu yang cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan yang payah.”  (QS 67:4)
Proses  penciptaan semesta alam ini, yang dalam Al Qur’an disebut sebagai penciptaan langit dan bumi, banyak dijelaskan Allah melalui ayat-ayat Nya secara terpisah-pisah dan dengan gaya bahasa yang universal dapat diterima oleh semua kalangan. Jika ayat-ayat tersebut diurutkan maka akan dapat disimpulkan bahwa prosesnya melalui tahapan-tahapan yang panjang skala waktunya. Tidak ujug-ujug jadi.

Kebanyakan para penentang teori evolusi, tidak hanya dari sebagian umat muslim saja melainkan pula dari kalangan gereja, karena merasa teori tersebut bertentangan dengan penafsiran mereka terhadap kitab sucinya. Dan memang, penafsiran terhadap segala sesuatu adalah sangat dipengaruhi oleh peran fungsi akal dan kesadaran setiap diri kemanusiaan, begitu pula penafsiran terhadap firman Tuhan.

Padahal telah ada pelajaran berharga pada abad pertengahan, yaitu hukuman mati yang dijatuhkan oleh gereja Katholik Roma terhadap Galileo Galilei, karena pernyataannya yang berdasarkan penelitian melalui teleskop bahwa bumi-lah yang ternyata mengelilingi matahari. Dan baru beberapa ratus tahun kemudian pihak gereja mengakui kesalahannya. Disinilah nama baik atau kesucian agama menjadi taruhan. Janganlah karena taqlid-nya pada penafsiran sehingga membuat kita malah tersesat seperti tersesatnya mereka, karena firman Tuhan di dalam ayat-ayat masih memerlukan penafsiran yang mendalam yang perlu juga didukung oleh akal pemikiran bahkan tekhnologi. Yang pada akhirnya manfaatnya akan kembali pula pada diri kita.

Seperti pula penafsiran kun fayaa kun (jadilah, maka terjadilah), yang ditafsirkan bahwa, bila Allah berkata jadi, maka jadilah seketika itu juga. Sehingga mereka yang menafsirkannya seperti itu, tergesa-gesa pula menjadi penentang teori evolusi-nya Darwin, seperti pihak gereja tergesa-gesa menentang teori sistem planeter-nya Galileo Galilei. Padahal di ayat-ayat yang lainnya menunjukkan hal tersebut memerlukan waktu proses.
“..... Sesungguhnya sehari di sisi Tuhan-mu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS 22:47)
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS 32:5)
“Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari yang setara dengan lima puluh ribu tahun (untuk ukuran manusia).” (QS 70:4)
Dan pada kisah Maryam, saat malaikat Jibril membawa berita dari Tuhannya, bahwa dia akan memiliki seorang putra yang bernama al Masih Isa putra Maryam. Kemudian Jibril pun meyakinkannya dengan berkata, ..... apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya,  jadilah, lalu jadilah dia. (QS 3:45-47)

Para cendekiawan agama yang terjebak dalam perdebatan pertentangannya terhadap teori evolusi, yang secara terang-terangan menolak teori ini karena didasarkan dogma kitab suci yang ternyata memerlukan penafsiran pula dalam memahaminya, sebenarnya selain mempertaruhkan keilmuannya, juga telah berani mempertaruhkan kesucian kitabnya yang tentunya mutlak kebenarannya dengan penafsiran yang benar. Maka bila kesalahan ada pada penafsirannya, sungguh ia telah turut menjatuhkan martabat kesucian kitabnya. Seperti kasus Galileo Galilei yang telah disebut di atas.

Tidak ada kitab suci yang menerangkan proses penciptaan manusia dan penciptaan semesta alam selengkap Al Qur’an. Tetapi mengapa masih sering terpancing pada perdebatan yang tiada guna, dan jelas-jelas memang pada setiap ciptaan-Nya pasti mengalami proses evolusi (tahapan perubahan) sebagai suatu ketetapan-Nya (sunathullah). Mana lebih kompleks susunan unsurnya pada tubuh kera atau tanah? Bila demikian, mengapa terusik egonya bila teori evolusi ini menyebutkan manusia berasal dari kera? Ingatlah, iblis dikutuk Allah karena kesombongannya yang merasa asal kejadiannya lebih sempurna dari manusia.

Dan penciptaan Isa al Masih itupun memerlukan proses, yaitu proses di dalam kandungan selama sembilan bulan, kepayahan, dan melalui juga proses kelahirannya. Tidak langsung jadi. Dan itulah ketetapan-Nya.
“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata, aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.”  (QS 19:22-23)
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah. Kemudian darinya Kami menjadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh. Kemudian dari air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah Pencipta yang paling sempurna.”         (QS 23:12-14)
“Dan mengapa mereka tak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan........” (QS 30:8)
Pahamilah dengan seksama ayat-ayat  tersebut di atas, sangat jelas menerangkan proses tahapan penciptaan manusia, dari mulai sebagai yang belum bisa disebut (unsur-unsur materi, seperti senyawa-senyawa protein, asam amino, dan senyawa organik lainnya) yang berasal dari saripati tanah yang dihisap oleh tumbuhan sebagai makanannya, kemudian tumbuhan itupun menjadi makanan manusia, dan di dalam tubuhnya di cerna yang sebagian hasil pencernaannya untuk pembentukan sperma-sperma yang selalu terbarukan. Selanjutnya setelah sperma yang bertemu dengan sel telur dan tersimpan di dalam rahim pun melalui tahapan-tahapan proses perubahan bentuk (evolusi) kejadiannya  yang menuju kesempurnaannya. Belum cukupkah itu membuktikan terjadinya proses evolusi pada penciptaan kehidupan?

Maka makna penafsiran kun fayaa kun (jadilah, maka terjadilah), tidaklah selalu harus terjadi dengan seketika atau sekejapan mata, melainkan melalui proses-proses yang telah ada dalam setiap ketetapan-Nya (sunathullah). Dan tahapan prosesnya adalah merupakan proses perubahan bentuk atau wujud yang juga tidak seketika dan memerlukan waktu, atau disebut pula evolusi. Sedangkan tahapan yang prosesnya berlangsung cepat disebut revolusi.

Seperti ulat daun yang makan sebanyak-sebanyaknya sebagai bekalnya untuk waktu berpuasa di dalam kepompong selama berminggu-minggu, dan ketika keluar telah bersayap indah sebagai kupu-kupu yang cantik mempesona. Begitupun pada larva-larva di dalam air, setelah masanya menjadi bentuk yang lain, yaitu nyamuk-nyamuk. Atau belatung-belatung yang menjijikkan yang berada pada sisa-sisa makanan yang membusuk, maka setelah masanya pun akan menjadi lalat-lalat.

Begitulah segala sesuatu yang selain Dia adalah ciptaan-Nya, makhluk yang tidak kekal (hadits) mengalami perubahan dan selalu terbarukan dalam berbagai bentuk dan wujudnya, baik yang nyata terlihat maupun yang nyata tak terlihat.
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS 76:1)
“...... maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari stetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) sampailah pada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan ada pula yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. ......” (QS 22:5)
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.”  (QS 16:78)
Juga pada proses penciptaan yang lebih besar dibandingkan penciptaan manusia atau makhluk hidup lainnya, yaitu proses penciptaan langit dan bumi, juga tentu memerlukan waktu.

Ulasan ini hanyalah sebagai contoh kasus bahayanya taqlid terhadap segala sesuatu, apalagi taqlid kepada dogma dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an. Yang namanya penafsiran tentu selalu berkembang sesuai perkembangan peradaban. Belum lagi penafsiran yang pasti berbeda-beda. Jangankan pada penafsiran, pada penerjemahan ayat-ayat Al Qur’an saja memiliki perbedaan penggunaan istilah di setiap masanya. Jika ingin lebih jelas, coba saja cek terjemahan keluaran cetakan lima atau sepuluh tahun yang lalu dengan terjemahan yang keluaran cetakan terbaru, maka pasti terdapat perbedaan pemakaian istilah yang mungkin saja menyulitkan pembacanya untuk mendapatkan  makna yang seharusnya. Bila hal tersebut diperkuat lagi dengan ketaqlidan, maka tentu dapat pula membawa kita kepada kesesatan dalam pemahaman.

Taqlid sungguh akan mematikan akal kita dalam setiap petunjuk yang sesungguhnya setiap saat hadir di hadapan kita, karena taqlid yang mempertahankan pemahaman lama dari datangnya pemahaman baru yang lebih mencerahkan. Sedangkan seperti yang kita sadari, bahwa Al Qur’an tak pernah lekang oleh masa.
Penafsiran ayat-ayatnya pun berkembang sesuai perkembangan peradaban kemanusiaan yang semakin menunjukkan kebenaran-nya. Ilmu pengetahuan dan tekhnologi semakin membuka tabir-tabir segala seuatu yang sebelumnya ghaib di alam ini untuk dapat diketahui, dikenal, dan dipahami serta mengambil manfaat-manfaat darinya. Begitulah Allah menunjuki kepada siapapun yang mau menggunakan akalnya.

Penafsiran adalah merupakan produk kemanusiaan, yang diliputi keterbatasan. Karena itulah selalu diperbaharui sepanjang masa. Bila diri kita ini terjebak, dan tidak mau menerima petunjuk-petunjuk berupa pemahaman baru, dan lebih kuat dalam mempertahankan pemahaman lama tanpa mengusahakan terlebih dahulu akalnya untuk menimbang, maka jelaslah diri kita termasuk golongan orang-orang yang menutup pintu hatinya dari petunjuk (cahaya Tuhan). Orang-orang inilah yang lebih memiliki peluang terjerumus kesesatan, karena tidak pernah mau melatih akalnya untuk bekerja. Kepekaan hatinya menjadi tumpul dalam melihat yang bathin dari segala sesuatu, sehingga lebih mudah terjerumus pada kesesatan.
Setelah shalat shubuh, Bilal bertanya,“Ya Rasulullah, apa gerangan yang telah membuatmu menangis. Bukankah Allah SWT telah mengampuni segala dosamu yang lampau dan yang akan datang?” Kemudian beliau menjawab, “Celaka kamu Bilal, bagaimana aku tidak menangis jika pada malam ini Allah SWT telah mewahyukan kepadaku ayat Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS 3:190) Kemudian beliau berkata lagi, “Celakalah bagi siapa saja yang membacanya, tapi tidak merenungkan kandungan maknanya.” [Tafsir Ibnu Katsir (1/441)]
Dibawah ini disajikan beberapa ayat Al Qur’an, yang sengaja dicoba untuk diurutkan berdasarkan proses kejadian alam semesta (langit dan bumi serta isinya), yang insya Allah, dapat membantu mempermudah pemahaman kita kepada proses tersebut.

“.....Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) benar dan waktu yang ditentukan......” (QS 30:8)
“Dan apakah orang-orang yang kafir (tertutup hati dan akalnya) tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu dahulunya adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.....  (QS 21:30)
“Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat hari. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.(QS 41:10)
Setelah langit dan bumi terpisah, dan Allah membentuk langit dan menghiasinya dengan bintang-bintang. Demikian pula bersamaan waktunya Dia menetapkan kepada penciptaan di bumi. Pada masa-masa inilah sebagai masa penciptaan sarana bagi kehidupan, dengan terlebih dahulu menyiapkan makanan-makanan bagi penghuni bumi, nantinya.
“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, dan langit itu masih berupa asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, datanglah kamu berdua dengan sukahati ataupun terpaksa. Kemudian keduanya menjawab, kami datang dengan sukahati. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua hari (masa) dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang terdekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”  (QS 41:11-12)
Ketentuan-Nya diantaranya adalah,
Gaya-gaya serta energi yang terjadi saat langit telah dilengkapi segala isinya, kemudian matahari dengan tata suryanya yang juga telah terbentuk sebagai lingkungan atau habitat bagi bumi, amat mempengaruhi apa-apa yang terjadi kemudian pada bumi. Diantaranya adalah mempengaruhi posisi tata letak kedudukan bumi yang amat menentukan proses-proses selanjutnya pada terciptanya kehidupan di bumi.

Pertama, gaya berputar pada porosnya (spinself) akibat gaya magnet pada kedua kutubnya yang menyebabkan terjadinya siang dan malam, sehingga terbentuklah suatu sistem waktu yang konstan, serta suhu permukaan yang dipengaruhi oleh keadaan siang maupun malam.

Kedua, pergeseran kemiringan poros bumi sebesar 23,5⁰ tegak lurus terhadap garis edar bumi yang mengelilingi matahari, menyebabkan ada malam atau siang yang lebih panjang di suatu wilayah tertentu. Dan hal ini menyebabkan perbedaan musim atau iklim suatu wilayah dibanding wilyah lainnya di permukaan bumi.

Kedua hal tersebut telah sangat mempengaruhi semakin kaya dan beragamnya pembentukan unsur-unsur di bumi karena dipengaruhi suhu permukaan dari adanya siang dan malam, yaitu perubahan temperatur dan iklim yang ekstrim pada awalnya, sehingga mengakibatkan keadaan dan kondisi bumi kepada aktivitas perubahan pada kontur lapisan kerak permukaan bumi. Baik pada pembentukan kekayaan mineral yang terkandung di dalamnya, dan kekayaan gas yang keluar akibat perubahan kontur di permukaan, seperti gerak akibat pergeseran kerak bumi, terbentuknya gunung-gunung berapi purba, lembah dan ngarai, rawa-rawa, danau, laut dan samudra, dan sebagainya. Inilah penghamparan bumi bagi persiapan pembentukan dari setiap ciptaan di masa kemudian.

Kekayaan mineral gas yang keluar dari aktivitas gunung-gunung api purba dan aktivitas lempeng yang mengeluarkan uap panas bumi, yang dipengaruhi gaya gravitasi sehingga tertahan tidak terus bergerak menjauhi permukaaan dan membentuk lapisan-lapisan atmosfir yang akan berguna melindungi bumi dari hantaman-hantaman benda langit yang datang, seperti meteor, asteroid, dan komet. Juga radiasi sinar matahari yang sebagiannya berbahaya bagi kehidupan, dan sebagiannya lagi yang berguna tetap menembus masuk dan mempengaruhi di atas permukaan bumi. Selain itu juga sebagai pelindung masuknya pengaruh suhu luar yang mencapai 270⁰ C di bawah nol. Selain atmosfir, bumi pun memiliki pelindung lain seperti Sabuk Van Allen, adalah radiasi medan magnet yang terbentuk karena kerapatan massa dari inti bumi yang terdiri dari Nikel dan Besi. Sabuk Van Allen ini ternyata ikut melindungi bumi dari jilatan lidah api matahari ketika terjadi badai di matahari yang suhunya ketika mendekati bumi mencapai 2500⁰ C secara tiba-tiba dan menimbulkan radiasi gelombang kejut.

Kemudian pada gas-gas yang molekul-molekulnya berinteraksi berupa uap air akan diturunkan kembali dalam bentuk hujan yang membasahi permukaan bumi. Yang tidak keluar dari permukaan, berinteraksi membentuk sumber-sumber air tersebar dan terkandung di dalam perut bumi. Dan mengeluarkannya melalui mata-mata air di permukaan.

Mari kita telaah kembali kalimat penutup ayat 30 surah Al Anbiya,
“........ Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” (QS 21:30)
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung serta Kami tumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan padanya (bumi) sumber-sumber kehidupan untuk keperluanmu, dan makhluk-makhluk yang bukan kamu pemberi rezekinya.”  (QS 15:19-20)
Proses penciptaan yang tiada henti-hentinya ini, semakin melimpahkan kekayaan akan unsur-unsur yang terbentuk di permukaan bumi. Selain air dan mineral, serta cahaya yang melimpah, ditambah perubahan-perubahan iklim yang ekstrim menciptakan hujan-hujan petir sebagai gelombang kejut yang juga merupakan pemicu interaksi yang lebih dinamis dan kompleks lagi, maka mulailah pembentukan protein dan asam amino sebagai senyawa molekul organik dari interaksi atom-atom beberapa unsur tersebut, yang juga adalah merupakan pembentuk sel kehidupan primitif seperti, fungi, protozoa dan bakteri-bakteri bersel tunggal, sel yang terdiri atau berbasis kabon dan air.
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat (halilintar) untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.”  (QS 30:24)
Air sebagai sumber dasar kehidupan, tidak perlu diulas mendetail lagi, dan telah dipertegas kembali oleh penutupan ayat  tersebut (QS 21:30) di atas. Dan keberadaannya yang melimpah, meliputi 70% permukaan bumi dalam bentuk lautan dan samudra, belum lagi kandungan-kandungannya di dalam perut bumi, sehingga bumi merupakan ibu kandung bagi kehidupan yang melahirkan begitu banyak kehidupan. Sebagai ibu pertiwi.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandangnya.”  (QS 15:16)
“Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?  (QS 71:16)
“Dan Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar, dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.”  (QS 14:33)
“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata air-nya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan kokoh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu” (QS 79:27-33)
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”  (QS 51:47)
Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu, dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.” (QS 55:7-9)
Kembali kepada proses terbentuknya kehidupan pertama yang memakan waktu ribuan bahkan jutaan tahun, dengan proses reaksi sintesa terhadap tanah permukaan bumi yang telah didukung air yang melimpah dalam bentuk rawa-rawa, serta energi panas matahari sehingga terbentuklah zat-zat anorganik, dan kemudian zat-zat organik, sebagai benih dasar sel-sel generatif.

Dan fungsi air sebagai pelarut, yang membawa dan mengumpulkan zat-zat organik dan segala macam unsur-unsur mineral, air yang melimpah tersebar merata di permukaan bumi, selain dalam bentuk lautan dan samudra, danau dan sungai, juga yang diduga kuat andilnya sebagai dapur penciptaan adalah rawa-rawa purba yang dangkal dan kental serta kaya akan mineral serta zat organik seperti protein dan asam amino. Seperti kaldu purba.

Dan peranannya dalam kelahiran kehidupan pertama ini, rawa-rawa purba yang banyak tersebar di seluruh permukaan bumi, keberadaannya tersebutlah sebagai rahim bagi janin-janin makhluk hidup pertama. Penciptaan manusia dengan kerumitan strukturnya yang terdiri dari milyaran sel penyusun tubuhnya, adalah pula karya gemilang yang merupakan kesempurnaan dari seluruh ciptaan.
“(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya kembali. Janji yang pasti Kami tepati, sungguh, Kami akan melaksanakannya.”  (QS 21:104)
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”  (QS 14:48)
Dua ayat terakhir ini menjelaskan keadaan alam semesta pada hari akhir (kiamat qubra), yang disebutkan pula ternyata memiliki keadaan atau proses yang sama saat pada hari awal (penciptaan pertama). Dan Allah sungguh-sungguh menegaskan, bahwa proses tersebut merupakan siklus pengulangan penciptaan.
Perumpamaan proses kejadian pada hari akhir (kiamat qubra), dimana langit dengan bintang-bintangnya hancur luluh melebur bersama bumi, seperti mengulung lembaran-lembaran kertas yang berlapis-lapis (QS 21:104), agar kita mudah memahami proses  singularitas (berpadunya kembali langit dan bumi), termasuk tujuh lapis langit, galaksi-galaksi dengan bintang-bintangnya, bumi, matahari, bulan, serta seluruh benda-benda langit lainnya, menjadi suatu yang padu kembali seperti kejadian awal yang dijelaskan pada QS 21:30. Yaitu, kembali pulang-nya segala sesuatu kepada sumber-nya Dia Yang Maha Tunggal, inna lillahi wa inna ilayhi raji’un.

Demikianlah ulasan ini hendak mengingatkan kita agar tidak tersesat oleh pemahaman kita sendiri, seperti di waktu-waktu yang lalu, bahwa sesungguhnya Dia-lah tujuan utama kita dalam kehidupan ini dan kehidupan nanti. Artinya, segala sesuatu tiada yang kekal dan abadi, baik dari segi waktu-nya maupun kebenaran-nya. Akan selalu ada kebenaran lain yang memperbaikinya.

Hanya Dialah Kebenaran Sejati, karena itu janganlah mengunci mati hati kita dari setiap yang akan datang sebagai petunjuk dari Tuhan untuk memperbaiki kebenaran sebelumnya yang telah ada pada kita. Petunjuk yang merupakan kebenaran adalah rahmat Allah yang takkan pernah berhenti, sebagai yang akan terus datang bagaikan cahaya matahari yang selalu hadir menerangi segala sesuatu untuk diketahui dan dipahami seluruh makhluk-Nya di bumi. Maka dengan selalu memohon perlindungan kepada-Nya dari penyesatan iblis yang menjadikan kesalahan dan keburukan terlihat indah oleh pandangan mata, serta terasa indah di dalam angan-angan, semoga Allah selalu memberikan petunjuk kepada yang haqq sebagai kebenaran sejati.
 “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar.....”

(QS 41:53)
Disunting dari: http: //sandozsantosa.blogspot.com/2013/06/bab-xxiii-menghindari-taqlid-yang.html
Ilustrasi Visual: http://www.youtube.com/watch?v=VOz4PkdY7aA&list=PL5is-ifD-n8W5Fk_Op40NE5YgX_ZavBOi .....http://www.youtube.com/watch?v=VOz4PkdY7aA&list=PL5is-ifD-n8W5Fk_Op40NE5YgX_ZavBOi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar