Jumat, 20 Juni 2014

ESENSI KEMANUSIAAN

Mengapa kita tidak-lagi bingung dan keheranan hanya karena ini, bila ada yang bilang “O, engkaulah MALAIKAT penolongku !!” Atau bahkan ada yang marah dan mencaci kasar, “dasar IBLIS tak berperi-kemanusiaan !!” ........sesungguhnya, didalam alam bawah sadar-nya, manusia amat memahami esensi-esensi tentang diri/jiwa-nya sendiri. Namun ia-pun adalah pelupa, sesungguhnya Allah telah mengajarkan seluruh “nama-nama” (ilmu pengetahuan) kepada manusia (QS 2:31). Maka hanya dengan mengingat (dzikr) kepada Allah, DIA akan mengembalikan ingatan akan ilmu-ilmunya itu.

Berdasarkan QS 3:133 yang menerangkan bahwa luasnya surga adalah seluas langit dan bumi, pernah rasulullah SAW ditanya sahabat, “dimanakah neraka, jika luasnya surga telah memenuhi langit dan bumi ??” Kemudian dengan balik bertanya rasulullah menjawab, “dimanakah malam jika siang telah datang ??”

Dengan balik bertanya rasulullah SAW telah menjawab pertanyaan sahabat, dan sahabat tau berdasarkan pengalamannya sehari-hari bahwa malam pasti akan datang kembali setelah tenggelamnya matahari. Sekalipun, seperti yang kita ketahui, bahwa pada masa itu tidak ada atau belum ada pengetahuan yang telah dapat menetapkan bahwa bumi itu BULAT, bukan datar, sehingga malam yang pergi darinya sesungguhnya sedang berada di sisi bumi lainnya. Penetapan tentang bumi yang bulat, baru ada setelah abad 16...... Bayangkanlah, baru setelah seribu tahun setelah masa kehidupan rasulullah SAW.


Sesuatu yang ghaib bagi seseorang belum tentu ghaib pula bagi seseorang lainnya. Dan ghaib bukan berarti takkan diketahui selamanya, melainkan hanya soal waktu untuk dapat memahaminya sesuai dengan perjalanan jiwa seseorang dalam menerima setiap petunjuk Tuhan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar